Tuesday, June 5, 2018

Bukan Ayat Cinta dari Negeri 5 Menara

Penulis berjilbab purple adalah peserta pelatihan penulisan essay, diselenggarakan di desa Hila


oleh: Safila Uyara
Dari zaman baheula hingga kiwari, karya sastra masih terus berkembang. Misalnya novel dengan berbagai tema diangkat. Mengulas berbagai macam fenomena yang menghimpit di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Hingga novel menginsiprasi sejumlah kalangan—SMP dan SMA.
Pengaruh ini bisa diikuti pada perkembangan anak-anak remaja di media sosial. Fragmen novel ditulis kembali menjadi status di media sosial. Secuil dari pengaruh novel terhadap pribadi pembaca yang tidak langka.

Jika isi novel yang berbicara mengenai berbagai prasangka, ini berdampak terhadap sikologi pembaca. Sehingga genre novel menjadi tumpuan untuk kepentingan “mendidik” generasi dari apa yang terbaca oleh mereka (remaja) SMP dan SMA.
Pembaca setaraf SMP dan SMA alangkah baiknya membaca novel yang isinya mengispirasi. Genre novel tidak bisa disangkal, bahwa ia memiliki pengaruh terhadap mereka. Misalnya, genre religi: Ayat-Ayat Cinta, karangan Habiburrahman El Shirazy. Karangan Ahmad Fuadi, Rantau 1 Muara (seri pertama trilogi Negeri 5 Menara).

Karakter Fahri—tokoh utama dalam Ayat-Ayat Cinta dapat dilihat jelas. Misalnya, bila ingin belajar ia selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen; tak kenal cuaca dan musim dingin yang menghunus. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur atau keperluan yang amat penting, ia pasti datang—belajar qiraah sab’ah dan ushul tafsir.

Habiburrahman, menggambarkan perilaku Fahri yang selalu mengutamakan disiplin. Selain itu, Fahri adalah pria yang memiliki sifat bijaksana. Sehingga buah tangan Habiburrahman yang berhasil “menyihir” pembaca, juga diadaptasikan menjadi film.

Sikap bijaksana bukan hanya diterapkan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Namun, Alif—tokoh utama Rantau I Muara ini menuntun kita untuk bersikap yang sama:
“Hidup itu seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan, sekaligus menjadi penguasa alam.Kita awal mulanya makhluk rohani, yang kemudian diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan tugas menghamba kepada Dia dan menjadi khalifah untuk kebaikan alam semesta. Kalau kedua peran ini bisa kita jalankan, aku yakin manusia dalam puncak bahagia. Berbakti dan bermanfaat. Hamba tapi khalifah.” (Rantau 1 Muara, hal 139).

Dalam Sastra dan Tekhnik, Mochtar Lubis menulis, selain isinya [novel] yang mengandung hiburan, juga sarat akan nilai-nilai yang bermakna bagi kehidupan serta dapat menimbulkan pikiran, motivasi dan malah menggerakan pembacanya untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.
Berdasarkan perspektif Mochtar Lubis, dua novel di atas dapat memompa moral value pembaca. Khususnya dari kalangan remaja. Habiburrahman melalui Fahri dan Ahmad Fuadi melalui Alif adalah dua karakter dari dua tokoh yang dapat dibilang sama.

Melalui novel dengan genre religi ini, oleh penulisnya, pembaca seperti di-“minta” untuk mengadopsi karakter kedua tokoh tersebut. Alasan ini, mungkin tepat juga. Khususnya bagi para remaja hari ini dan serta generasi akan datang. Dari sini, genre novel jadi babak penetuan….
“Perjalanan pulang ternyata lebih panas dari berangkat. Antara pukul setengah epat hingga pukul lima adalah puncak panas siang itu. Berada di dalam metro rasanya seperti berada dalam oven. Kondisi itu nyaris membuatku lupa akan titipan Maria. Aku baru teringat ketika keluar dari Mahattah Hadayek Helwan. Ada dua toko alat tulis. Kucari di sana. Dua-­duanya kosong.Aku melangkah ke Pyramid Com. Sebuah rental komputer yang biasanya menjual disket. Malang! Rental itu tutup.Terpaksa aku kembali ke Mahattah dan naik metro ke Helwan. Di kota kudapatkan juga disket itu. Aku beli empat. Dua untuk Maria dan dua untuk diriku sendiri. Kusempatkan mampir ke masjid berada tepat di sebelah Barat Mahattah Helwan untuk sholat Ashar. (Ayat-Ayat Cinta, 2007: 58).
“Tahukah kalian birrul walidain? Artinya berbakti kepada orang tua. Mereka berdua adalah tempat pengabdian penting kalian di dunia. Jangan pernah menyebutkan kata kasar dan menyebabkan mereka berduka. Selama mereka tidak membawa kepada kekafiran, wajib bagi kalian untuk patuh.” (Rantau 1 Muara, hlm 141)
Dua kutipan itu menjelaskan arti dari taat beribadah. Menjaga amanat seseorang dan berbakti kepada kedua orang tua. Kedua hal tersebut juga merupakan bentuk ketaatan beribadah kepada Tuhan.
Sehingga novel religi—untuk pembaca remaja, SMP dan SMA layak untuk dikonsumsi. Krisis ahlak yang menjadi fenomena sekarang, misalnya murid membunuh guru, siswa SD menghamili anak SMP, menjadi catatan penting. Bahwa novel, punya peran penting untuk mendongkrak ahlak dan sikap terpuji bagi pembacanya.
Ada beberapa novel, misalnya karangan Enny Arouw mungkin tidak diwajibakan untuk anak SMP dan SMA. Karena alur cerita yang sangat berpengaruh terhadap cara “berpikir”. Buku yang laris di tahun ’90-an ini mungkin dikhususkan bagi pembaca dewasa.
Pilihan genre novel adalah cara kita membina generasi. Khususnya mereka yang masih duduk di bangku pendidikan. Selain, menyuntik minat membaca terhadap siswa. Memilih genre novel karena tidak serta-merta semua novel layak dibaca.
Tetapi Ayat-Ayat Cinta dan Rantau 1 Muara adalah buah tangan pengarang Indonesia yang layak dikonsumsi semua kalangan. Pembahasan dua novel di atas sarat akan nilai edukatif, menginspirasi. Bukan sekadar ayat cinta yang tumpah dari “negeri” lima menara. [*]

No comments:

Post a Comment