![]() |
| Penulis berjilbab purple adalah peserta pelatihan penulisan essay, diselenggarakan di desa Hila |
oleh: Safila Uyara
Dari
zaman baheula hingga kiwari, karya sastra masih terus berkembang. Misalnya
novel dengan berbagai tema diangkat. Mengulas berbagai macam fenomena yang
menghimpit di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Hingga novel menginsiprasi
sejumlah kalangan—SMP dan SMA.
Pengaruh
ini bisa diikuti pada perkembangan anak-anak remaja di media sosial. Fragmen
novel ditulis kembali menjadi status di media sosial. Secuil dari pengaruh
novel terhadap pribadi pembaca yang tidak langka.
Jika
isi novel yang berbicara mengenai berbagai prasangka, ini berdampak terhadap
sikologi pembaca. Sehingga genre novel menjadi tumpuan untuk kepentingan
“mendidik” generasi dari apa yang terbaca oleh mereka (remaja) SMP dan SMA.
Pembaca
setaraf SMP dan SMA alangkah baiknya membaca novel yang isinya mengispirasi.
Genre novel tidak bisa disangkal, bahwa ia memiliki pengaruh terhadap mereka.
Misalnya, genre religi: Ayat-Ayat Cinta,
karangan Habiburrahman El Shirazy. Karangan Ahmad Fuadi, Rantau 1 Muara (seri pertama trilogi Negeri 5 Menara).
Karakter
Fahri—tokoh utama dalam Ayat-Ayat Cinta
dapat dilihat jelas. Misalnya, bila ingin belajar ia selalu datang tepat waktu.
Tak kenal kata absen; tak kenal cuaca dan musim dingin yang menghunus. Selama
tidak sakit dan tidak ada uzur atau
keperluan yang amat penting, ia pasti datang—belajar qiraah
sab’ah dan ushul tafsir.
Habiburrahman,
menggambarkan perilaku Fahri yang selalu mengutamakan disiplin. Selain itu,
Fahri adalah pria yang memiliki sifat bijaksana. Sehingga buah tangan
Habiburrahman yang berhasil “menyihir” pembaca, juga diadaptasikan menjadi
film.
Sikap
bijaksana bukan hanya diterapkan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Namun, Alif—tokoh utama Rantau I Muara ini menuntun kita untuk bersikap yang sama:
“Hidup
itu seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan, sekaligus menjadi penguasa alam.Kita
awal mulanya makhluk rohani, yang kemudian diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan
tugas menghamba kepada Dia dan menjadi khalifah untuk kebaikan alam semesta. Kalau
kedua peran ini bisa kita jalankan, aku yakin manusia dalam puncak bahagia. Berbakti
dan bermanfaat. Hamba tapi khalifah.” (Rantau
1 Muara, hal 139).
Dalam Sastra dan
Tekhnik, Mochtar Lubis menulis, selain isinya [novel] yang mengandung
hiburan, juga sarat akan nilai-nilai yang bermakna bagi kehidupan serta dapat
menimbulkan pikiran, motivasi dan malah menggerakan pembacanya untuk berbuat
sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.
Berdasarkan
perspektif Mochtar Lubis, dua novel di atas dapat memompa moral value pembaca. Khususnya dari kalangan remaja. Habiburrahman
melalui Fahri dan Ahmad Fuadi melalui Alif adalah dua karakter dari dua tokoh
yang dapat dibilang sama.
Melalui
novel dengan genre religi ini, oleh penulisnya, pembaca seperti di-“minta”
untuk mengadopsi karakter kedua tokoh tersebut. Alasan ini, mungkin tepat juga.
Khususnya bagi para remaja hari ini dan serta generasi akan datang. Dari sini,
genre novel jadi babak penetuan….
“Perjalanan
pulang ternyata lebih panas dari berangkat. Antara pukul setengah epat hingga
pukul lima adalah puncak panas siang itu. Berada di dalam metro rasanya seperti
berada dalam oven. Kondisi itu nyaris membuatku lupa akan titipan Maria. Aku
baru teringat ketika keluar dari Mahattah Hadayek Helwan. Ada dua toko alat tulis.
Kucari di sana. Dua-duanya kosong.Aku melangkah ke Pyramid Com. Sebuah rental
komputer yang biasanya menjual disket. Malang! Rental itu tutup.Terpaksa aku
kembali ke Mahattah dan naik metro ke Helwan. Di kota kudapatkan juga disket
itu. Aku beli empat. Dua untuk Maria dan dua untuk diriku sendiri. Kusempatkan
mampir ke masjid berada tepat di sebelah Barat Mahattah Helwan untuk sholat
Ashar. (Ayat-Ayat Cinta, 2007: 58).
“Tahukah
kalian birrul walidain? Artinya
berbakti kepada orang tua. Mereka berdua adalah tempat pengabdian penting
kalian di dunia. Jangan pernah menyebutkan kata kasar dan menyebabkan mereka
berduka. Selama mereka tidak membawa kepada kekafiran, wajib bagi kalian untuk
patuh.” (Rantau 1 Muara, hlm 141)
Dua
kutipan itu menjelaskan arti dari taat beribadah. Menjaga amanat seseorang dan
berbakti kepada kedua orang tua. Kedua hal tersebut juga merupakan bentuk
ketaatan beribadah kepada Tuhan.
Sehingga
novel religi—untuk pembaca remaja, SMP dan SMA layak untuk dikonsumsi. Krisis
ahlak yang menjadi fenomena sekarang, misalnya murid membunuh guru, siswa SD
menghamili anak SMP, menjadi catatan penting. Bahwa novel, punya peran penting
untuk mendongkrak ahlak dan sikap terpuji bagi pembacanya.
Ada
beberapa novel, misalnya karangan Enny Arouw mungkin tidak diwajibakan untuk
anak SMP dan SMA. Karena alur cerita yang sangat berpengaruh terhadap cara
“berpikir”. Buku yang laris di tahun ’90-an ini mungkin dikhususkan bagi
pembaca dewasa.
Pilihan
genre novel adalah cara kita membina generasi. Khususnya mereka yang masih
duduk di bangku pendidikan. Selain, menyuntik minat membaca terhadap siswa. Memilih
genre novel karena tidak serta-merta semua novel layak dibaca.
Tetapi
Ayat-Ayat Cinta dan Rantau 1 Muara adalah buah tangan
pengarang Indonesia yang layak dikonsumsi semua kalangan. Pembahasan dua novel
di atas sarat akan nilai edukatif, menginspirasi. Bukan sekadar ayat cinta yang
tumpah dari “negeri” lima menara. [*]

No comments:
Post a Comment